Perang Darah
Perang darah, aku sedang bercanda dengan nafasku sendiri, tapi nyinyir yang kudapat. Diantara hati dan banjir keringat, ribuan duri yang berpikir, ada dera menyambangi tangan, lapar berteriak gegas di telinga menyembah kebodohan.
Aku tiba - tiba kangen hari - hari di atas rumput, ekor - ekor yang berlari takut tertinggal laju kaki, malam dengan pasir penuh bintang, dan selimut dingin. Di sana tidak ada perang lagi, aku dihiraukan bising karena semua gemuruh jadi satu. Ketika malam pekat, aku melihat malaikat.