Seperti judulnya, novel yang ditulis oleh almarhum Motinggo Busye itu bernada islami dan mengisahkan perjalanan hidup seorang wanita. Karya novelis besar tersebut sarat dengan lika-liku perjalanan hidup dan konflik batin para tokohnya. Tokoh utamanya adalah Chen Chen, seorang wanita Taiwan yang setelah menjadi Muslimah berganti nama menjadi Fatimah Chen Chen.

Sinopsis :
Setiap orang mempunyai kenangan pahit dan indah dalam hidupnya. Juga Chen-Chen, yang kini dikenal sebagai Fatimah Chen Chen binti Ali Asghar. Sama dengan Belinda Liu, kakak perempuannya, jika mengenang masa silamnya di Taipei, Taiwan, di masa remaja, semua ada pahit dan indahnya.
Chen Chen Margaretha Liu, anak jutawan, suka keluyuran. Namun, bukan sekadar berkeliling di Kota Taipei bersama teman-temannya. Ia malah pernah berdiam di Jakarta dengan bekerja di Konsulat China Formosa dan mampu berbahasa Indonesia meskipun kurang baik.
Sempat pula Chen Chen berpetualang di Chiang Mai, Thailand, tak cuma keluar-masuk ruang disko di Kota Bangkok. Ia berpetualang pula di permukiman masyarakat muslim di Pattani, Thailand Selatan.
Kendati banyak bergaul dengan remaja China, ia justru pertama kali jatuh cinta dalam pesawat China Airlines dalam perjalanan pulang ke Taipei. Ia jatuh hati kepada Dira Alwin, pemuda ganteng asal Jakarta yang hendak membuat reportase tentang Taiwan karena konon berhasil di bidang pertanian.
Chen Chen menyesal saat dijemput kakaknya, Belinda, di bandara. Rasa jengkelnya muncul karena perhatian Dira malah cenderung ke Belinda, yang matang, anggun, dan memancarkan kesungguhan.
Tetapi, Chen Chen yang urakan lebih disenangi Dira karena bicaranya mengasyikkan. Matanya berbinar jika mengagumi dan ia seolah tak menyimpan rahasia.
Namun, mengapa lelaki ini menghubungi Belinda setiba di hotel, bukan menelepon Chen Chen? Meski begitu, Chen Chen berusaha terlihat wajar dengan Belinda. Tetapi akhirnya, ia harus menelan pil pahit kekalahan saat Belinda serius hendak menikahi Dira. Chen Chen baru benar-benar yakin pada rencana tersebut ketika tersiar kabar bahwa orang tua Dira akan menghadiri pesta pernikahan. Wanita itu menyembunyikan tangis di kamarnya.
Menjelang pukul 22.00, Chen Chen telah terdampar di ruang disko. Ia lalu diseret oleh 'anjing Taipei', gerombolan pemuda berandal yang umumnya anak orang kaya. Kemudian, ia terdampar di Peitou, kota kecil yang dikenal sebagai kota pelacuran.
Di kota itulah lahir pekerja seks komersial muda berusia 12-15 tahun yang menjual diri. Mereka dibayar mahal di hotel-hotel Kota Taipei. Ia pun terseret pesta mabuk-mabukan dan seks bebas yang mengerikan di suatu hotel samaran.
Namun, siapa sangka kalau Chen Chen akhirnya menjadi ustadzah sekaligus pemimpin suatu pesantren putri. Lika-liku maupun pahit getirnya kehidupan dan proses ber-Islam-nya membentuk Chen Chen menjadi muslimah yang kuat dan tegar, bahkan setelah ditinggal mati suaminya.
Novel Islami ini sangat menyentuh dan mengharukan untuk dibaca. Lebih dari itu, novel ini pun bertabur hikmah kehidupan yang amat berharga. Karena itu, terlalu sayang untuk dilewatkan. Dari novel ini, kita bisa mengambil hikmah bahwa kehidupan harus dijalani secara ikhlas. Dengan keikhlasan, kita akan tenang menjalani hidup.